Kongres HTN diduga Cacat Prosedur

Kongres HTN diduga Cacat Prosedur Suasana kongres

Surabaya, DinamikaBangsa

Kongres Hukum Tata Negara Se-Indonesia (HTNSI) yang diselenggarakan berlangsung empat hari di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA).

Kongres tersebut hanya dihadiri sebanyak 23 delegasi kampus se-Indonesia, dan 12 di antaranya mundur menjadi peserta kongres HTN.

“Hal ini terindikasi terjadi perbuatan curang dalam proses kongres, seperti dengan penggelembungan peserta, tidak dijalankannya tata tertib (tatib) dan Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) oleh pimpinan sidang,” ucap salah satu peserta yang berinisial I yang belum bisa menyebutkan nama lengkapnya kepada media ini. Selasa, (25/12).

Dirinya juga menambahkan, adanya pembiaran dari pihak keamanan terhadap sebagian delegasi yang dilakukan oleh panitia dari tuan rumah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Saat diwawancarai beberapa peserta delegasi pasca kegiatan, mereka mengatakan, adanya kecurangan, kecacatan dan settingan dari awal acara sampai detik akhir pemilihan ketua umum HTNSI ini.

Peserta delegasi dengan sadar melihat adanya kecurangan yang dilakukan oleh Panitia tuan rumah, pada saat peserta delegasi menyangga dari beberapa pernyataan presidium sidang tidak mengabulkan pendapat dari peserta delegasi Universitas Muhammadiyah Jakarta, sedangkan ketika Tuan rumah mengusulkan berbagai pendapat presidium menerima dan menyatakan pendapat itu adalah sah.

“Permasalahan yang paling krusial lainnya ialah adanya peserta gelap dengan almamater tuan rumah yang mengaku sebagai peserta pengganti, padahal sebelum itu ia adalah panitia kongres, dibuktikan dengan tanda pengenal di depan peserta delegasi,” tegas pria yang berinisial I tersebut.

Kisruh forum berdampak pada berbagai peserta delegasi kampus menarik kesimpulan untuk walk out dari forum karna forum tidak disepakati berlandaskan konstitusi yang berlaku, terjadi pemukulan kepada delegasi dari oknum tuan rumah di luar forum. 

“Di samping itu, banyak delegasi yang memandang kongres ini tidak layak untuk mengatasnamakan se Indonesia,” tutupnya. (ari)